1000 Nights in Panama | The Panama Papers : Nasib Tinggal di Negara Tempat Money Laundry



The Panama Papers
Nasib Tinggal di Negara Tempat Money Laundry


Pemandangan Panama City, Panama, dan Gedung-gedung Pencakar Langitnya.

Hi semua... Gimana kabar Rabu Pagi di Indonesia? 

Kabar di Panama hari Senin kemarin agak sedikit mendung, semendung kabar pagi hari yang cukup mengejutkan tentang Panama. Ya, The Panama Papers. Mungkin sebagian besar sudah pada tahu ya tentang Skandal Panama Papers yang terungkap hari Senin 4 April 2016 lalu di seluruh dunia. Dari hari Senin sampai Selasa ini, jujur aku sendiri banyak ditanyai kerabat dan kawanku di Indonesia, “Ri, Panama Papers itu gimana sih?”

So... here it is a glimpe of Panama Papers. Kayaknya sudah saatnya aku berbagi cerita sedikit tentang beberapa fakta dan pengalamanku hidup di Panama, terutama yang terkait Panama Papers ini.

Pemandangan Skyscrappers di Panama City, sebagian kosong atau baru dibangun.
The Panama Papers adalah kebocoran dokumen klien firma hukum kecil dari Panama, Mossack Fonseca, Co. Firma hukum kecil yang memiliki kantor cabang di Miami, Zurich, Hongkong, dan beberapa kota lain di dunia ini diduga memfasilitasi para kliennya yang umumnya pengusaha, politisi, dan orang-orang terkaya dunia, agar bebas pajak dan menyalurkan uangnya dengan cara membeli saham atau mendirikan perusahaan di yuridikasi bebas pajak (offshore). Negara surga dunia bebas pajak ini antara lain Panama dan British Virgin Islands.

Sejak setahun belakangan, ICIJ (International Consortium of Investigative Journalists) yang tergabung dari 370 jurnalis dari 76 negara menelisik dokumen yang berisi catatan para klien yang terdiri dari kepala pemerintah (yang sedang menjabat atau mantan), tokoh dunia, pebisnis internasional, sampai pemain sepak bola. Puncaknya, pada akhir minggu lalu, dokumen berjumlah 11,5 juta data dan berkapasitas 2,7 terabites yang terkumpul sejak tahun 1977 sampai Desember 2015 tersebut dilaporakan pertama kali ke surat kabar di Jerman, SüddeutscheZeitung, lalu menyebar secara massive ke seluruh dunia.

Memang tidak seluruh pendirian perusahaan di offshore tersebut ilegal, hanya saja banyak yang menggunakan pendirian atau penanaman saham ini untuk transaksi yang ilegal. Hal ini karena Mossack Fonseca, Co. disinyalir dapat memfasilitasi para kliennya untuk membuat perusahaan di yuridikasi bebas pajak (offshore) dan menyamarkan kepemilikan perusahaan offshore agar tidak mudah dilacak. Pejabat dan pengusaha Indonesia tidak tanggung-tanggung juga disinyalir tersangkut skandal Panama Papers ini, sebut saja Soeharto dan keluarga, Lippo Group dan keluarga, pengusaha kelapa sawit dan kertas itu (you know who), dan lainnya. Mossack Fonseca, Co. sendiri letaknya tidak jauh dari tempat aku tinggal, dengan gedung tidak terlalu besar dan tinggi dan beralamat di Edificio Arango Orillac Piso 1, Panama, Panamá, Calle 54 Este, Panama City, Panama.

Then believe it or not... Berkorelasi positif atau tidak (ini efek dari Kelas Statistik Multivariat, oh Noooo!!!)... Secara kebetulan atau tidak... ada beberapa fakta yang aku temukan selama aku tinggal di Panama ini. Mungkin saja ini dapat membuat teman-teman lebih ‘melek’, “Seperti apa sih Panama Papers di Panama itu sendiri?” Let’s, check this out:

1.       Buka Bank Account Pribadi di Panama itu sulit
Saat pertama kali aku datang kesini, aku diberi tahu oleh BPKRT (Bendahara Pengurus Kerumah Tanggaan) dan Staf Lokal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Panama City kalau untuk membuka akun bank disini membutuhkan Surat Referensi Berbahasa Inggris dari Indonesia. What the?! Kenapa gak bilang dari awal sih, aku kan belum sempat bawa. Alhasil, aku disarankan untuk menunggu sampai jangka waktu 6 bulan setelah menetap disini untuk dapat membukan akun bank pribadi disini.

Ketika aku tanya, kenapa begitu? Karena memang seperti itu prosedurnya. Ok, jawaban klise dan tidak cukup memuaskan. Tapi katanya, prosedur tersebut diberlakukan pemerintah Panama untuk mencegah klien tersebut melakukan money laundry lewat rekening yang dibukanya. Dengan sudah menetap selama 6 bulan, dianggap orang tersebut tidak akan melakukan money laundry.

Sementara itu bila mengikuti skenario awal, Surat Referensi yang diminta dari Bank di Indonesia harus menyatakan bahwa kita tidak terlibat perbuatan perdata atau pidana terkait uang, seperti money laundry, penggelapan uang, korupsi, dsb selama di Indonesia.
Staf Lokal Kedutaan Besar di Indonesia yang telah tinggal lama di Panama selama 14 tahun karena menikah dengan orang sini (eaaa, yang ini bikin mupeng Riri.. ok, gagal fokus :’D ) juga menuturkan bahwa membuka akun pribadi bank disini juga melewati proses yang lama dan panjang. Seperti Banco Generale, bank negara di Panama, prosesnya paling sulit dan panjang, karena mereka tidak mau sembarangan terima klien. Takut-takut rekeningnya akan dipakai untuk money laundry saja. Beda dengan Indonesia ya, yang berebut-rebut cari klien sebanyak-banyaknya.

2.       Buka Bank Account atas nama institusi juga sulit
Masih menurut informasi dari BPKRT, ternyata buka akun bank atas nama institusi juga sulit disini. Seperti kesulitan yang dialami KBRI Panama City yang masih belum memiliki akun insitusi karena belum ada bank di Panama yang mau bekerja sama. Ia telah mendatangi 5 – 6 bank di Panama City ini namun hasilnya masih nihil. Alasan dia karena bank-bank tersebut tidak mau mengambil resiko bahwa institusi tersebut akan ‘kabur’, atau ‘bodong’, atau melakukan money laundry lewat rekeningnya. 

What the??? Nyatanya KBRI adalah insitusi negara yang gak akan melakukan money laundry? Kalau pun terjadi masalah, gak akan bisa kabur begitu saja dengan mudahnya kan... Nah tapi ternyata kenyataannya seperti itu pemirsah... *sigh*

3.       Banyak Gedung-gedung Pencakar Langit dan Apartemen yang kosong
Kalau melihat Panama City sekarang ini, antara takjub dan terheran-heran. Takjubnya adalah kotanya banyak berdiri skyscrappers yang menjulang, terdiri dari gedung perkantoran, apartemen, atau pusat perbelanjaan. Pembangunan di Panama City mulai berkembang pesat setelah tahun 2000-an, tepatnya setelah pengalihan pengelolaan Panama Canal atau Terusan Panama dari Amerika Serikat ke Panama. 

Panama Canal atau Terusan Panama di Miraflores, 15 menit dari pusat kota.
Amerika Serikat yang memperoleh sumber pendapat besar dari Panama Canal selama 100 tahun lantas tak mau kehilangan sumber pendapatan meski tak lagi mengelola Panama Canal. Oleh karena itu, Amerika Serikat pun melakukan investasi dengan cara melakukan pembangunan besar-besaran di Panama City. Oleh karena itu, banyak gedung bertingkat yang dibangun untuk pusat perkantoran atau apartemen guna menjaring lebih banyak investor dan perusahaan asing datang, membuka bisnis, dan melakukan investasi di Panama City. Sejak itulah, gedung-gedung skyscappers menjamur di Panama City.

Panama Canal atau Terusan Panama di Miraflores, sedang dilewati kapal.

Panama Canal di Colon, kiri Samudera Atlantik, kanan Samudera Pasifik (kalau gak salah hehe).

Panama Canal saat dibuka, kapal akan melewati ketinggian yang berbeda (lock).

Namun demikian, ternyata skyscrappers seperti kantor dan apartemen disini tidak semuanya digunakan atau ditempati. Beberapa sumber disini mengatakan bahwa gedung-gedung tersebut sebenarnya dibangun dari uang hasil money laundry atau sekedar membangun saja untuk mengalirkan dana yang tidak tahu juntrungannya dari mana. 


Apartemen Banyak yang Kosong, berminat? Pemandangan dari Penthouse Hotel Waldorf Astoria Panama.

Atau baru dibangun, berminat?

Apartemen menghadap laut loh, 1 bulan USD $ 1.100 - 2.000, masih berminat?
Pantas saja, kalau malam hari aku perhatikan disini, terlihat banyak jendela-jendela apartemen yang gelap gulita. Pulang malam karena sibuk ngantor? Atau karena jumlah penduduk Panama City tidak sepadat Jakarta? Mungkin saja semua itu bisa terjadi, tapi yang pasti terlalu banyak jumlah yang kosong membuat tanda tanya besar di benak saya, “Apa betul negara Panama ini adalah negara tempat money laundry?”

4.       Pajak Belanja di Panama sebesar 7%
Panama adalah negara impor. Hampir seluruh barang-barang dagangannya adalah hasil impor, kecuali sayur, buah, dan susu, atau topi dan baju kerajinan tangan khas Panama City yang diproduksi di kota-kota luar Panama City. Pengalamanku setiap membalikkan price tag barang, seperti Zara, H&M, atau bahkan merk tak dikenal, selalu saja “Hecho en China” atau “Made in China.” Tak anyal pajak yang dikenakan sebesar 7% untuk setiap barang kecuali sayur dan buah. 

Warga asing yang telah menjadi Permanent Resident sepertiku atau yang telah mendapat ID Panama akan mendapat Kartu Bebas Pajak yang ditunjukkan di kasir sebelum pembayaran untuk mendapat potongan bebas pajak 7% tersebut. Atau kita bisa juga berbelanja di tax free zone seperti di Colon, 1 jam dari Panama City, dimana tempat tersebut berisi pertokoan yang memberlakukan bebas pajak. Daerah ini dikurung tembok tinggi dan kerangkeng besar dan tidak sembarang orang boleh masuk. Kalau dilihat, seperti daerah isolasi khusus dari zombi di film Resident Evil,:-D hahaha imajinasimu, Ri...

Kalau belum punya kartu tersebut atau lupa membawa, ya wassalam. Siap-siap mengumpat karena 7% itu gede loh booo, apalagi dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD$). Pernah aku membeli sepasang baju senam dan blazer, sudah senang-senang hargnya juga USD$ 14,98, eh karena pajak 7% jadinya USD $ 16,03. Kan lumayan pajaknya sebesar USD $ 1,05 bisa buat beli es krim cone McD disini :-(

Nah, kalau warga negara asing saja dikenakan pajak, hal ini membuat tanda tanya besar lagi di benak saya seperti yang diungkapkan dalam hasil analisis Tempo, “Apa betul negara Panama ini adalah negara tempat bebas pajak?” Mungkin saja benar skandal Panama Papers yang dilakukan Mossack Fonseca, Co. untuk membantu kliennya, para orang-orang kaya dunia, untuk menyembunyikan uangnya di Panama City dan demi terhindar dari pajak. Yang pasti, bukan buat remah-remah makaroni pedas kayak aku gini -_-“


Pemandangan Cinta Costera di Avenida Balboa, jogging track di bibir pantai Panama City, Panama.

Oke, sudah dulu ya ceritanya. Disini sudah pukul 21.34 waktu Panama City. Riri pamit dulu ya, mau nge-gym after work nih (setelah sebelumnya ‘bolos’ dari jogging malam rutin bersama Pak Dubes dan staf lain karena mau nge-blog dulu, hihi). Oya, aku masih belum cerita ya kenapa sih aku sampai di Panama City ini? Dan apa yang aku kerjakan di Panama City ini? Nanti ya, aku update lagi blog-nya, sementara waktu stay tune dulu aja di Instagram-ku @rirryhapsari for more traveling and living stories about #ThePinkTraveler living in #1000NightsInPanama. Chao! :-*

XOXO,
Hapsari Sulistyaningrum
Follow me on Instagram @rirryhapsari

Sumber Bacaan:
The Miami Herald Newspaper
Google

Pop-Psychology | Sejenak Berbagi Kebahagiaan Lewat #ProjectSukaCita 2015



Sejenak Berbagai Kebahagiaan Lewat #ProjectSukaCita 2015




Project SukaCita 2015 dari Tanoto Foundation


Apa arti kebahagiaan bagimu? Mungkin makan enak di restoran yang fancy atau nonton di bioskop membuat kamu bahagia. Tapi berbeda dengan anak-anak di pelosok Kabupaten Pelalawan, Riau.

Bagi mereka, bisa makan dengan nasi dan lauk, serta masuk sekolah setiap hari saja sudah membuat mereka bahagia. Itulah yang kami rasakan saat kami berkunjung untuk sejenak berbagi kebahagiaan lewat #ProjectSukaCita 2015. Lalu, apa saja yang kami lakukan selama Project Sukacita 2015 ini?

Project Sukacita ini merupakan inisiasi dari para Tanoto Scholars Singapura. Program ini dibantu oleh Tanoto Scholars Indonesia untuk memberikan kontribusi nyata melalui pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak di pelosok. Sebanyak 15 mahasiswa dari SMU, NUS, dan NTU Singapura bersama dengan 5 mahasiswa dari UGM, UI, ITB, dan IPB Indonesia turut aktif.

Program ini berlangsung selama 4 hari. Program dimulai dari tanggal 7 dan berakhir 12 Desember 2015. Lokasi program berada di Taman Kanak-kanak Afdeling IV dan Tempat Penitipan Anak (TPA) Afdeling II, Kebun milik PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Provinsi Riau.

Program yang telah berjalan dari tahun 2013 ini merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Tanoto Foundation. Program ini juga untuk mewujudkan visi Sukanto Tanoto, Pemimpin Royal Golden Eagle (RGE) Group, dalam mendukung terpenuhinya hak pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak Indonesia. Program ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan kepada anak-anak dengan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Berbagi Suka Cita dengan Anak-anak


Dengan kesehatan dan pendidikan yang memadai, anak-anak akan merasa bahagia dan kelak tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berkualitas. Oleh karena itu, Tanoto Scholars Singapura bekerja sama dengan Tanoto Scholars Indonesia. Kami mempersiapkan serangkaian program yang meliputi kegiatan bernyanyi, menggambar, dan mewarnai untuk anak TK; pemeriksaan untuk balita dan penyuluhan kesehatan untuk orang tua; pengecatan Tempat Penitipan Anak (TPA); pemberian susu dan perlengkapan sekolah serta pengajaran moral melalui drama untuk anak TK.

Di hari pertama, para Tanoto Scholars mengajak anak-anak bernyanyi untuk menciptakan kehangatan dan kedekatan. Anak-anak TK diminta mengenalkan diri dan menyuarakan cita-citanya. Kata orang bijak, mimpi itu perlu disuarakan agar didengar oleh orang lain, bila tidak itu tidak akan terwujud.

Acara hari pertama selesai. Secara tidak sengaja beberapa Tanoto Scholars bertemu dengan salah satu orang tua. Dia menceritakan betapa bahagia anaknya hari ini bertemu dengan banyak Ibu dan Bapak Guru.

“Hari ini TK-ku kedatangan banyak ibu dan bapak guru. Aku senang sekali, aku diajak bernyanyi dan menceritakan cita-cita! Aku ingin jadi Polisi!” cerita ibu tersebut sambil menirukan gaya anaknya bercerita.

Tak lupa, kami juga mengunjungi RGE Technology Center. Di dalamnya, terdapat perjalanan perusahaan raksasa Royal Golden Eagle (RGE) yang dipimpin oleh Sukanto Tanoto. Selain itu juga terdapat laboratorium untuk penelitian dan inovasi paling modern bagi pengembangan bibit akasia.

Di hari kedua, melalui kegiatan mewarnai anak-anak diajarkan untuk mewarnai berbagai jenis makanan sehat dan mengelompokkannya ke dalam piramida makanan. Tak lupa, kami mengajak mereka untuk mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar melalui nyanyian dan peragaan.

Para ibu pun turut datang membawa anak-anak dari desa-desa sekitar untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan oleh mahasiswa kedokteran Singapura. Sayangnya, 3 dari 28 anak yang diperiksa masih di bawah gizi standar WHO. Oleh karena itu, para ibu diberi penyuluhan tentang kesehatan anak-anak, terutama tentang cara menghadapi anak yang susah makan, diare, terluka, hingga terpapar asap kebakaran hutan sawit.

Di hari ketiga, para Tanoto Scholars mengecat Tempat Penitipan Anak (TPA) dan menghiasnya agar mereka dapat bermain sambil belajar dengan bahagia.

Di hari terakhir, anak-anak diajak menggambar dan membuat bentuk dari plastisin. Kami juga mengajak mereka untuk menonton drama yang ditampilkan oleh para Tanoto Scholars. Drama tersebut menceritakan tentang kisah kura-kura dan kelinci. Tujuannya untuk mengajarkan pesan moral kepada mereka agar saling tolong menolong sesama teman dan menjadi anak yang baik.

Kebahagiaan pun tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh para Tanoto Scholars. Kami merasa senang mendapat kesempatan untuk bertemu dan menjalin relasi dengan teman-teman dari negara yang berbeda-beda. Indonesia, Singapura, dan Filipina, semuanya menjadi satu. Unity in Diversity. Tidak peduli dari mana kita berasal, selama memiliki hati yang baik dan tujuan yang mulia, kita bisa bergabung untuk membuat dunia yang lebih baik.

Sebagai puncak acara sekaligus penutup, anak Pangkalan Kerinci mendapat goodie bag berisi susu dan gunting kuku. Mereka juga mendapat seperangkat alat tulis dan tas sekolah untuk mendukung kegiatan belajar mereka. Senyum sumringah menghiasi pipi mereka. “Jangan pulang Pak Guru, Bu Guru! Besok kesini lagi ya!” teriak mereka sambil bergelayutan pada kami.

Puncak Acara dengan Foto Bersama dan Pembagian Goodie Bag


Betapa membahagiakannya melihat anak-anak pelosok bersuka-cita lewat Project Sukacita 2015 ini. Sebabnya sederhana, "The best way to make children good is to make them happy” (Oscar Wilde, Pengarang dan Penulis Puisi). Cara terbaik untuk menciptakan anak-anak yang baik adalah untuk membuat mereka bahagia. Semoga apa yang kami berikan lewat Project Sukacita 2015 ini dapat membuat mereka menjadi generasi Indonesia yang baik, cerdas, dan sehat; karena mereka tumbuh sebagai anak yang berbahagia.

Penulis: Hapsari Sulistyaningrum 

Instagram: @rirryhapsari
Link Kompasiana:
http://www.kompasiana.com/rirryhapsari/sejenak-berbagai-kebahagiaan-lewat-projectsukacita-2015_5684ecd2ee9273e007e17fc6

Pop-Psychology | Belajar Empati Tanpa Antipati sebagai Masyarakat Global

"Ada ledakan bom di Paris"

Ketika mendengar kabar ini dari seorang Ibu hebat yang saya temui saat mengikuti acara Jogja International Heritage Walk tadi pagi, saya langsung shock. Langsung kepikiran, lebih tepatnya.

Mungkin karena ada hubungan emosional dengan yang namanya #Paris, Prancis, sehingga berita ini langsung membuat pikiran saya ke memori saat disana, dan orang2 yang saya kenal disana. Beruntung ada notifikasi dari Facebook beberapa orang di kontak saya menyatakan aman.

Saya meletakkan kaki di sepatu Anda, orang2 di Paris. Saya jadi membayangkan, kalau saya sedang berada disana seperti tahun lalu, jangan2 saya ikut jadi korban. Dan drama yang diceritakan dalam 10 menit teror oleh salah satu wartawan Prancis, Pearce, membuat saya merinding. Bagaimana jika saya ada disana? Saya bakal lari di tengah saat para Teroris mengganti peluru, atau saya bakal pura2 mati?

Tapi, kenapa mesti ada teror dari teroris 1 tahun 2 kali di kota tersebut? Apa yang salah dengan Paris, Prancis?

Disinyalir yang melakukan penembakan adalah ISIS dan para Imigran dari Syria, sehingga Pemerintah mengetatkan perbatasan border dan memberlakukan Keadaan Darurat di Prancis. Mereka melakukan penyerangan di 6 tempat dengan cara menembak dan bom bunuh diti, diduga 150 orang tewas dan pelaku penyerangan juga ikut tewas. Salah satu pemboman dilakukan di Stadion tempat pertandingan angara Timnas Perancis dan Jerman. Presiden Prancis Francais Hollande yang sempat menonton pertandingan sempat dievakuasi dan dinyatakan selamat. Presien USA Barrack Obama menyatakan serangan ini sebagai serangan yang memalukan untuk melukai warga sipil.

Kalau para pelaku memiliki dendam tertentu pada negara barat katakanlah Prancis, apakah bijak dengan cara ini?

Pasti orang berpendidikan atau bahkan orang awam saja menyadari bahwa tindakan membunuh dan meneror orang lain itu sangat tidak manusiawi dan dilarang. Semua AGAMA mengajarkan itu ke semua orang, sehingga semua orang tahu kalau membunuh atau meneror itu tidak manusiawi. Sekali lagi saya tegaskan, semua AGAMA mengajarkan itu ke semua orang, sehingga semua orang tahu. Bahkan orang Atheis saja sadar diri, meski dia memutuskan Atheis karena sebelumnya pernah punya Agama.

Berarti logikanya: orang yang tidak diajarkan oleh Agama adalah orang yang tidak sadar bahwa membunuh atau meneror itu tidak manusiawi. Dan ambillah contoh di agama saya karena saya tidak fasih kitab agama lain, di Agama Islam tidak mengajarkan membunuh atau meneror orang. Jadi, orang tersebut tidak diajarkan oleh Agama yang bernama Islam. Dengan kata lain, orang yang membunuh atau meneror itu bukanlah orang Islam sesungguhnya, meski mereka menggunakan atribut Islam.

Berarti, sepakat ya, tidak bisa dikatakan orang tersebut yang meneror alias teroris = orang Islam, dan tidak bisa dikatakan semua orang Islam = orang teroris. Betul? Koreksi saya bila salah.

Lalu bagaimana tindakan bijak kita selaku bangsa lain selain memberi ucapan belasungkawa?

Saya adalah masyarakat global. Generasi saya tumbuh saat ini terutama di Indonesia juga sudah tumbuh di era global. Seharusnya generasi kita pemikirannya sudah makin terbuka. Kalau kita sudah bisa mengatakan dan membela diri mati2an "Tidak semua orang Islam adalah Teroris", maka majulah satu langkah lagi:

Janganlah juga ber-prejudice atau men-generalisir, mentang2 orang barat yang bukan Muslim lantas akan mencap Teroris = Muslim, sehingga kita jadi antipati untuk empati terhadap mereka.

Empati itu sendiri dalam pengertian paling sederhana dari bahasa Psikologinya adalah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, seolah-olah kita menjadi diri mereka, atau berdiri di atas sepatu mereka. Susahnya berempati kadang karena adanya prejudice (prasangka) atau stereotype (stereotip).

Stereotip ini sendiri sesungguhnya bisa bermanfaat positif bagi otak manusia yang terbatas, yakni memberi 'label' untuk sesuatu agar mudah diingat. Namun kadang kala lebih banyak digunakan sebagai hal yang negatif, karena men-generalisasi sesuatu yang minor 'pasti' terjadi di seluruh mayor. Padahal, tidak semuanya demikian. Seperti, tidak semua orang Islam itu adalah teroris atau ekstrimis. Atau, tidak semua orang barat mencap Islam adalah teroris atau ekstrimis. Got it?

Nah, sesungguhnya dari pengalaman saya berinteraksi dengan teman-teman manca negara, banyak juga orang barat yang sudah berpikiran terbuka bahwa 'Tidak Semua Islam itu adalah Teroris'. Meski, ya beberapa orang Prancis menjadi memiliki kesan buruk terhadap orang Islam akibat  kejadian ini dan penembakan Charlie Hebdo Januari 2015 silam, tapi bukan berarti semua orang Perancis jadi takut dan benci Islam. Kalaupun ada yang masih belum terbuka pikirannya, itu urusan mereka, bukan urusan kita kalau mereka mencap semua Muslim = Teroris.

Urusan saya cuma merasakan apa yang mereka rasakan, memberi support jarak jauh, serta ikut meningkatkan kesadaran saya beserta teman-teman masyarakat global lainnya untuk lebih cerdas berempati bahwa mereka yang jadi korban juga saudara kita, terlepas apapun agama dan ras mereka. Belajarlah empati tanpa antipati sebagai masyarakat global.

So, all my pray is for you, for those who are save or already gone to heaven. May Paris and France will be in peaceful like befoe, and there will be no more bombs nor terrors there. Aamiin. #PrayForParis

*NB:
Sorry ya tiba2 curhat di statu panjang gini, dan mungkin ada yang gak setuju dengan curhatan saya. Urusan Anda kalau gak setuju ya, toh saya gak langgar UU IT atau norma2 yg berlalu. Setelah jalan kaki 10k mengelilingi komplek Candi Prambanan dan sekitarnya membuat kaki saya jadi cenat cenut hari ini, masih aja saya bersemangat menulis status ini sebagai bentuk kepedulian dan kekhawatiran saya disana.

Mungkin ini yang namanya "Emotional Attachment" yaa... tapi bukan antara Ibu dan Anak. But... ya you name it lah! Oke saya cus mandi dulu dan siap bobo ciang cantik, capek je jalan 10k sampe siang dan jadi tanned skin gini :-D bhaayyy...!!

Love,
@rirryhapsari The Pink Traveler ♡
JOG, 141115

Sumber:
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151113_dunia_penembakan
http://jogja.tribunnews.com/2015/11/14/aksi-serangan-di-perancis-terjadi-serentak-di-6-lokasi-ini
http://jogja.tribunnews.com/2015/11/14/saksi-mata-10-menit-yang-mengerikan-di-bataclan-paris
http://jogja.tribunnews.com/2015/11/14/hampir-empat-juta-tweet-prayforparis-mengalir-deras-di-twitter